Programmer Pintar, Cerdas, Kaya dan Anjing Penggonggong
Sebelum sang programmer menjadi kaya biasanya programmer berjuang mati-matian agar bisa menjadi penulis kode yang pintar, namun setelah si programmer dianggap pintar dan jago oleh rekan - rekanya kembali si anjing - anjing penggonggong bersaing meneriakkan makian - makian secara tidak langsung "Kapan Kamu Bisa Menjadi Kaya seperti Saya ?".
Karena kegigihanya dalam memperlajari berbagai hal dan ketekunan, lambat laun si programmer pun menjadi seorang "pintar" dan pada akhirnya menyadari bahwa keahlianya bisa digunakan untuk menghasilkan uang dengan nilai nominal yang tidak wajar dari kebanyakan gaji para pekerja pada umumnya. Dan pada akhirnya si programmer mulai mencoba mengacungkan pantatnya ke wajah para anjing.
Si anjing menertawai programmer yang bergaji kecil dan kadang tidak digaji sama sekali, si anjing menghakimi si programmer sebagai seseorang yang idealis, keras kepala dan tidak pernah memiliki pendirian tetap seperti si anjing.
Si programmer pun berjuang agar si anjing berhenti menyalak semakin keras, mulailah si programmer berkenalan dengan hukum "Garis Kematian", si programmer menyadari bahwa salah satu cara untuk membuat si anjing diam adalah dengan melawan "Garis Kematian", Oh.... si programmer ternyata tidak sanggup, ia hampir mati dan si anjing pun kembali berbahak semakin keras sambil menunjukkan betapa begitu bergengsi-nya si anjing sekarang dan terus menertawai dan menganggap si programmer sebagai seorang "MADESU" - masa depan suram.
Ternyata eh ternyata si programmer mandapatkan ilham untuk melawan "Garis Kematian" ya dia tidak hanya membutuhkan "Pintar" tapi si programmer juga membutuhkan "Cerdas", ya si programmer menyadari dengan betul - benar bahwa pintar juga harus cerdas.
Dengan ke "Cerdas" - an yang sudah ia pelajari kembali si programmer mencoba melawan "Garis Kematian" dan O...h gagal .... gagal dan gagal lagi ..... dan si anjing kembali menertawainya.
Kembali si programmer mencari cara agar dapat menyelesaikan misinya dalam melawan "Garis Kematian" dan si programmer menyadari ke "Cerdas" -an saja ternyata belum cukup. Si programmer membutuhkan seorang teman se-perjuangan untuk menjalankan misinya.
Setelah si programmer menjadi seseorang yang sangat kaya raya si programmer menulis sebuah catatan dalam tinta abu - abu dengan isi tulisan "Ternyata Saya Harus Pintar, Cerdas, dan Bersahabat Agar si Anjing Diam".
Karena kegigihanya dalam memperlajari berbagai hal dan ketekunan, lambat laun si programmer pun menjadi seorang "pintar" dan pada akhirnya menyadari bahwa keahlianya bisa digunakan untuk menghasilkan uang dengan nilai nominal yang tidak wajar dari kebanyakan gaji para pekerja pada umumnya. Dan pada akhirnya si programmer mulai mencoba mengacungkan pantatnya ke wajah para anjing.
Si anjing menertawai programmer yang bergaji kecil dan kadang tidak digaji sama sekali, si anjing menghakimi si programmer sebagai seseorang yang idealis, keras kepala dan tidak pernah memiliki pendirian tetap seperti si anjing.
Si programmer pun berjuang agar si anjing berhenti menyalak semakin keras, mulailah si programmer berkenalan dengan hukum "Garis Kematian", si programmer menyadari bahwa salah satu cara untuk membuat si anjing diam adalah dengan melawan "Garis Kematian", Oh.... si programmer ternyata tidak sanggup, ia hampir mati dan si anjing pun kembali berbahak semakin keras sambil menunjukkan betapa begitu bergengsi-nya si anjing sekarang dan terus menertawai dan menganggap si programmer sebagai seorang "MADESU" - masa depan suram.
Ternyata eh ternyata si programmer mandapatkan ilham untuk melawan "Garis Kematian" ya dia tidak hanya membutuhkan "Pintar" tapi si programmer juga membutuhkan "Cerdas", ya si programmer menyadari dengan betul - benar bahwa pintar juga harus cerdas.
Dengan ke "Cerdas" - an yang sudah ia pelajari kembali si programmer mencoba melawan "Garis Kematian" dan O...h gagal .... gagal dan gagal lagi ..... dan si anjing kembali menertawainya.
Kembali si programmer mencari cara agar dapat menyelesaikan misinya dalam melawan "Garis Kematian" dan si programmer menyadari ke "Cerdas" -an saja ternyata belum cukup. Si programmer membutuhkan seorang teman se-perjuangan untuk menjalankan misinya.
Setelah si programmer menjadi seseorang yang sangat kaya raya si programmer menulis sebuah catatan dalam tinta abu - abu dengan isi tulisan "Ternyata Saya Harus Pintar, Cerdas, dan Bersahabat Agar si Anjing Diam".

waduh ciapa ni gan?
ReplyDeleteCurhat ya gan? Nasib memang jadi programmer kantoran :)
ReplyDeleteMboten gan ane freelance kok, ini suara hati ketika masih mahasiswa gitu loh ...
ReplyDelete